Malam di Kampungku
Waktu itu musim kering, sekitar april-september, dan Juli adalah hari libur panjang anak-anak sekolah. Ketika kami sebagai anak-anak selesai mengaji di rumah salah satu guru ngaji, dan tiba waktu isya.. disitulai mulainya keasyikan malam yang tak akan pernah terlupakan. Bulan menerangi desa kami, walau lampu-lampu sudah menerangi teras-teras rumah, tapi jalanan dan pepohonan yang biasanya gelap gulita menjadi terang remang-remang. Mengundang semangat muda kami untuk bermain apapun di bawah cahaya bulan indah itu. Sekelompok anak-anak desa berkumpul dengan riuh dan riang gembira, di tanah lapang desa kami. Tepatnya di samping rumahku yang ditumbuhi bermacam jenis rumput-rumput menjadi alas bermain kami yang empuk dan sejuk. Ukurannya setengah lapangan sepak bola cukup untuk menampung anak-anak sedesa bermain, ada yang bermain petak umpet, kejar-kejaran, bermain lompat tali, atau permainan sederhana lainnya. Tapi yang paling populer tentu saja bermain petak umpet berkelompok. Satu kelompok menjaga benteng, dan satu kelompok lainnya bersembunyi. Jika kelompok lawan berhasil menguasai benteng maka dia menang. Seru sekali. Sementara waktu itu aku terlalu muda untuk bermain semacam itu, krn biasanya yang memainkannga anak-anak kelas 3 ke atas. Sementara aku masih kelas 1. Jadi aku hanya ikut nimbrung di tanah lapang itu sambil menyaksiskan kakak2ku bermain permainan petak umpet itu. Dulu baik laki2 maupun perempuan semuanya sama. Akan menjadi lawan atau kawan. Antara penjaga benteng dng yang bersembunyi saling berkejaran di antara gang2 rumah atau kebon, saling berteriak satu sama lain untuk menjaga bentengnya, menjadi malam yang seru tak terlupakan. Kami yang masih kelas 3 ke bawah menyaksikan sambil belajar tak langsung dr kakak2 kami cara bermain benteng itu. Kelak ketika usia kami cukup, maka kamilah yang meneruskan permainan benteng itu, sayangnya harapan itu hanya mimpi abadi ketika kami cukup usia, televisi memasuki rumah-rumah kami. Dan berakhirlah akhirnya kisah manis itu, tergantikan dng kesunyian walau seterang apapun bulan menerangi malam di desa kami. Mata kami semua Fokus dengan televisi, dilanjut dng gadget. Yang sekarang tinggal kenangan yang kutulis ini.

Komentar
Posting Komentar