Ketika Cinta Dunia Menyusup
Menikmati dunia itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan ketika kita dititipi keberlimpahan harta benda. Bukan untuk tujuan akhir namun untuk menunjang kegiatan ibadah kita yang amat beragam ini baik ibadah mahdoh maupun ghairu mahdoh. Bahkan seorang muslim yang kaya memiliki keistimewaan tersendiri di samping mereka yang tidak kaya, jadi tidak ada salahnya kita menikmati dunia dari kekayaan yang kita miliki, karena abdurrahman bin auf pun kaya raya dan tetap menjadi salah satu sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk surga.
Tapi...
Seringkali tanpa sadar kita kebablasan. Normalnya begitu. bahkan ketika kita belum kaya sekalipun kita selalu memikirkan dunia ini. Apa-apa tujuannya duniawi bahkan ketika berdoa juga. Lebih banyak mengharapkan kenikmatan dunia daripada kenikmatan akhirat. Padahal dunia sudah dijamin tapi akhirat tergantung bagaimana amalan kita.
Akhirnya tanpa sadar kita telah jatuh ke dalam cinta dunia, sebuah penyakit yang menjangkit umat islam saat ini yang disebut Rasulullah sebagai penyakit Wahn. Penyakit cinta dunia dan takut mati. Jika berpikir cinta dunia itu seperti perampok, koruptor, atau penguasa zalim, anda masih belum tepat. Ketika hidup kita nyaman dengan dunia ini saja itu sudah menjadi penyakit. Ketika bersenang-senang lebih kita anggap nyaman dibanding ibadah yang terasa berat, seadanya dan hampa tanpa makna sebenarnya, itulah wahn kita. mungkin memang belum sampai menjadi pribadi serakah atau zalim pada orang lain, tapi gejala itu akan terus melekat ketika kita tak menyadarinya.
Perangkap itu terasa semakin menguat ketika ibadah kita remehkan, bukan lagi sebagai kegiatan utama dan istimewa bagi kita, hanya ritual penggugur kewajiban. Akibatnya kita lebih suka terburu-buru melakukannya, buru-buru shalat, buru-buru berdoa, buru-buru ngaji dll. sementara ketika kita bekerja, bermain, jalan-jalan, atau makan-makan maunya yang paling enak, paling nyaman, dan paling bagus sebisa kita. itulah perangkap yang tanpa sadar menyerang umat islam.
Memang keindahan dunia itu sangat kuat pesonanya, ya tentu saja karena agar hati dan pikiran kita terlalaikan dari keindahan surgawi di akhirat kelak.. padahal surga dan isinya berjuta kali lipat keindahannya daripada dunia yang ala kadarnya itu. Tapi banyak kita tak menyadari hal ini dan dengan entengnya merasa seperti bakal hidup selamanya, bakal muda selamanya dan bakal mati seenak yang dia kira.Benar-benar ketertipuan terbesar dalam sejarah umat manusia.
Jika ditelisik seberapa tak seriusnya kita memikirkan akhirat lantaran sudah teralihkan pada dunia, apakah kita memikirkan mau di shaf berapa kita shalat, apakah tak ada target seperti itu? Mau mengaji berapa juz atau semoodnya aja?Mau amalan sunnah apa yang akan dikerjakan besok? Apakah ada listnya atau mendadak saja sesempatnya?
Ketika jawabannya pada pilihan kedua, maka betapa mengenaskannya kita meski secakep, sekaya atau sepopuler apapun kita. Semua bernilai nol ketika ibadah dibuat terpisah dengan kegiatan duniawi ini. padahal kita hanya mau ke mall saja memikirkan apakah baju kita matching dengan celana dan aksesoris, memastikan pakaian itu rapi dan bersih, dan seberapa wangi kah nanti.. tapi ketika pergi ke masjid baju malah yang dipakai seadanya yang penting bersih.. oh sungguh apakah pergi mall lebih mulia daripada pergi bertemu Allah? cetasss...
Memang bukan tanpa maksud meluruhkan semangat, jangan salah paham demikian.. Tapi harus kembali dibangun kesadarannya agar kita tak terlalu jauh tersesat atau terlambat menyadari. semua harus diawali karena Allah dan diakhiri karena Allah. Jangan sampai ketika kita sudah semangat-semangat bekerja dan berhasil sukses kita malah menjadi sia-sia hasilnya tak menjadi amal karena niatnya hanya duniawi semata.
Untuk itu maka perlu adanya perasaan menyesal, mengakui kealpaan dan selalu berusaha membersihkan hati dari penyakit-pemyakit dunia yang menipu ini.
Ketika bekerja niatkan ulang bekerja itu bukan karena untuk kaya atau kemewahan tapi karena ibadah lillahi taala.. dan aneka kegiatan lainnya.

Komentar
Posting Komentar