Kecengengan yang Tak Disadari
Untuk memulai sesuatu kadang aku bingung entah mulai dari mana. Bukan karena kurang motivasi tapi kurang esensi kenapa aku harus melakukan suatu hal, ketika esensi itu kurang real atau mendesak, maka sampai kapan pun aku tak mengerjakannya. contohnya mengepel lantai, kadang sebenarnya aku tak masalah ketika lantai itu agak berdebu atau kotor, jadi sampai beberapa hari lantai itu kubiarkan begitu, tapi ketika ada tamu yang akan datang, maka dengan segenap kekuatan dan tekad lantai itu langsung ku sapu dan kupel meski mungkin masih terlihat cukup bersih, apalagi sudah kotor dan berdebu. apakah itu sebuah kelainan, kebodohan atau hal normal, entahlah yang pasti aku ingin ada seseorang yang memahami ini, bukan hanya meremehkan perasaan ini. yang pasti aku seprti kehilangan arah ketika ayah ibuku sudah tiada, aku butuh sosok lain yang membuatku merasa dicintai dan layak untuk dicintai dengan apa adanya, bukan karena aku memiliki hal ini dan itu. mungkin memang akan sangat sulit tapi aku yakin suatu saat aku akan menjumpai sosok itu, di saat yang sudah ditetapkan oleh takdir. begitupun dengan keadaan aku ingin memulai sesuatu yang jauh lebih besar daripada hal diatas. Akhirnya ketika galau seperti itu aku menyetel lagu kesukaanku, penyanyi yang sedang hits belakangan ini dengan nada yang mendayu, tapi melengking,. sambil minum kopi susu sachet 2000-an. oh nikmatnya menjadi "cengeng" ini.
Tapi satu hal yang tak kusadari bahwa itu semua membentukku menjadi orang yang lembek, pasif, dan tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi permasalahan. Lebih sering menghindari sebisa mungkin bahkan sampai akhirnya menumpuk dan merepotkan orang lain. Efek lainnya aku seperti kurang macho ketika berhadapan dengan lawan jenis, terlihat kurang menantang dan tidak menarik. Itu adalah salah satu kenapa aku masih jomblo sampai saat ini. Aku lebih banyak menghayal tentang hal-hal yang belum aku capai, menyedihkan memang ketika ditulis fakta seperti itu. Sebab mau bagaimana lagi.. untuk memulainya aku merasa lebih banyak ketakutan dan kekhawatiran dari overthinking ku ini. aku tak tahu mulai dari mana untuk memulai hidup baru ini dan mengakhiri nasib tragis ini, sebab jika dibiarkan bisa saja membunuhku pelan-pelan.
Kenyataan itu aku terima sebagai bagian dari kelemahan yang harus kubenahi, agar aku tak melakukannya lagi di lain waktu. Tapi ketika sesekali mencoba menjauhkan diri dari hal-hal yang candu seperti gadget dan internet, produktivitasku naik 10 kali lipat, seperti membersihkan seisi rumah, merapikan barang-barang, memperbaiki bagian-bagian rumah dan peralatan yang rusak, dan membaca buku-buku yang belum sempat kubaca, rasanya lega, normal, dan seperti hidup lagi. Tapi memang itu tak berlangsung lama, godaan akan kecanduan gadget itu begitu kuat sehingga aku tak kuasa untuk menahannya dan pada akhirnya kembali seperti awal persoalan. Menyebalkannya itu seperti normal padahal tidak, karena kebiasaan itu tak membawaku kemana-mana, alih-alih membunuhku pelan-pelan, mematikan potensiku.
Mau tak mau aku harus melawannya sebelum benar-benar menjadi kebiasaan yang sulit dirubah, aku harus mampu menjadi versi terbaikku dan meninggalkan kebiasaan yang menyedihkan ini sebelum aku berumah tangga dan memiliki keluargaku sendiri.
Kalau dijabarkan hal pertama yang harus saya lawan adalah kontrol diri, hal pertama adalah memenangkan diri sendiri dari godaan hawa nafsu yang merusak. sebab jika kita mampu menguasai dari hawa nafsu maka setelah itu semuanya akan mampu ditaklukan dengan mudah. Kurasa begitu, setelah bersusah payah menaklukan hawa nafsu itu maka sisanya hanyalah tantangan yang tak begitu besar.
Hawa nafsu bukan hanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan gairah dengan lawan jenis, tapi segala hal yang membuat kita terlena, lalai, dan bahkan lupa tentang kewajiban kita dalam beribadah, baik ibadah fardhu maupun sunnah, baik ibadah mahdoh maupun ghairu mahdoh.. baik habluminannas maupun hablumminallah.. jadi termasuk nafsu duniawi, harta, jabatan, kemalasan, dan hal-hal yang melanggar syariat lainnya. Semuanya begitu rumit ketika dijabarkan tapi ketika kita di sana tak mengingat Allah maka itu sudah termasuk kegiatan yang melalaikan. Meski mungkin kita tidak mungkin menghindari 100 persen, tapi kita bisa menguranginya seminimal mungkin. Begitulah manusia, kita bukan malaikat apalagi nabi boy.
Kita mungkin akan terlena baik sesaat atau lama ketika kita lupa mengontrol diri sekalipun sebelumnya kita sadar bahwa itu adalah perbuatan yang melalaikan, maka di sanalah letak perjuangannya, semakin sering kita menang maka semakin besar kita akan semakin dekat dengan kesuksesan kita. mungkin juga kita akan tak peduli ketika kenikmatan itu berhasil menguasai diri kita sehingga kita merasa masih punya sisa waktu panjang untuk memperbaikinya kelak, padahal aslinya belum tentu karena bisa jadi itu adalah kegiatan kita untuk terakhir kalinya. Maka di sini pentingnya kita mengingat kematian.


Komentar
Posting Komentar