Bersama Sang Jalang

Hari-hari sewangi melati, semerbak menyusup di antara relung hidung dan hati, mencuri-curi pandang di antara sebilah kaca, menyirami hariku yang kerontang, menumbuhkan kembali kuncup-kuncup asmara yang telah lama binasa, merekah lebih hijau kali ini, sampai-sampai satu jam hanya seperti sekali helaan nafas. Sampai-sampai kawanku hanyalah perantau yang singgah di bumi milikku, dan kau permaisuriku waktu itu. Karena aku menggila seperti menghisap heroin yang konon membuat mabuk kepayang, oh nikmatnya candu asmara ini denganmu, waktu itu. Kau berhasil mengobrak abrik ketidaksempurnaanku yang rapat-rapat kujaga dengan kedok kehormatan. Bak ikan yang lupa dengan airnya, malah menyemplung di antara riak anggur merah. Bak merpati yang terbang jauh melupakan tuannya yang membelikannya biji-bijian. Bak seekor rusa yang bodoh menerobos kawanan singa. Demi sebuah kenikmatan cinta yang dahsyat. Sayangnya aku seperti bayi 3 tahun yang bermain-main dengan pedang Sang Sultan. Dahsyat merobek-robek jemari, telapak, dan lenganku, walau hanya setitik sentuhan dan sesaat menggaulinya. Tak seperti pengharapan banyak orang yang membangunkan raksasa tidur, embun yang memekarkan bunga morning glory di kala fajar, atau sekedar menyemburkan nektar untuk seekor tawon madu yang keroncongan perutnya. Jauh dari itu, malah menjermbabkan aku ke dalam jurang yang tak mampu aku menaikinya, tersesat di dalamnya, sendirian, dan entah siapa yang bisa menyelamatkanku, waktu itu. 

Ya.. aku hanya sedang menunaikan janjiku sebagai penulis, walau bukan profesional, janji dari diriku untuk diriku bahwa siapapun yang meninggalkan kesan mendalam akan tertuliskan di manapun, asal itu karyaku. Entah ini akan menjadi harapan baru atau hanya sekedar kenangan membekas, aku akan menuliskannya, dengan cara yang murni apa adanya dan semoga elegan, mengikuti usiaku saat ini. 

Aku tak suka wanita bodoh, dia cantik dari luar, dari jauh, dan dari sudut pandang orang asing. Mempesona tatkala masih asing, membikin penasaran lelaki tulen manapun, tapi 'bau' ketika didekati. Sejauh itulah aku mengenal wanita cantik. Cantik secara kasat mata. Hampir semua begitu. Karena waktunya ia habiskan hanya untuk mendempul relung2 karbonnya,  hampir tak berguna untuk pria sepertiku.

Beberapa kali penasaran dengan metode pengambilan sampel, dan hasilnya sama. Ujungnya mereka menjadi beban, lemot, dan aneh. Jikau kau mencari wanita cantik, kau bukan temanku. Karena temanku hanyalah orang-orang pintar, dan orang pintar tidak memandang wanita dari fisik, tanya saja dengan Mark Si empunya facebook kalo kau tak percaya. Dia memang bukan temanku tapi dia sepemikiran denganku. Pasangan bukan hanya bertanggung jawab memuaskan hasrat naluriah semata, tapi juga seberapa hebat ia mendongkrakkan kita ke arah yang lebih maju. Dan itulah salah satu hal yang meluluhkan hatiku. Ia berhasil membantai hatiku yang bebal ini. Tidak seksi, tepos atas bawah, tapi tipu dayanya cemerlang meluluhlantakan perhatianku dari duniaku yang kujaga rapat-rapat. 

Semua bermula dari pertemuan di sebuah tempat yang bernama kampus. Pandangan pertama timbul rasa yang membisikanku bahwa dia lah orang itu. Pilihanku. Meski waktu itu aku bahkan tak tahu apapun tentangnya, bahkan sekedar nama. Konyol memang, bahkan lebih konyol lagi hatiku masih dengan seseorang yang sombong itu. Yang kini sudah menjadi istri orang. Lupakan saja. 

Ia begitu lincah, enerjik, dan simpel. Menurut orang-orang mungkin tak seharusnya seorang wanita seperti itu, standarnya wanita itu anggun, lembut, feminim, dan tak banyak tingkah, dan dia adalah oposisinya. Tapi justru itulah yang tepat untukku, setidaknya dari luar. Tapi aku tak ingin buru-buru mengenalnya, khawatir itu hanyalah fatamorgana perasaanku. Aku tak mau membuang-membuang waktu untuk hal-hal yang serba tergesa-gesa, aku adalah tipe yang menyukai proses, santai, dan elegan jika menyangkut hal-hal serius. Bukan sekadar penghilang penat dan penasaran. Maka kubiarkan mengalir bagaikan air. Jika waktu itu pun ia segera akrab denganku, aku justru jijik, dan menolak mentah-mentah meski itu tipeku. Karena memang segala hal yang serba ketergesaan yang paling tidak aku sukai.
Kecuali untuk hal remeh temeh seperti hal-hal yang bersifat hiburan, aku tak suka yang terlalu lama memilih, bertele-tele, atau serba ribet. Cukup pilih 1, dan let's go. Begitulah, sisi dualisme pribadiku yang entah normal atau tidak tapi itu cukup menolongku dalam hidup. 

Waktu berlalu aku adalah pria yang santai membicarakan berbagai hal dengan kawanku. Rupanya diam-diam ada yang memperhatikanku, teman-teman, sosmed, saudara2ku, dan lata belakangku. Tentu saja dia orangnya. Sharon. Aku tak menyangka dia mendekatiku sejauh ini. Satu tahun lalu dia nampak asing bagiku. Setiap hari aku hanya memperhatikannya dari jauh. Melihatnya dari seberang koridor kampus. Sesaat ku palingkan agar tidak terlihat mencurigakan. Kemudian ku lihat ia masih asik bercengkerama dengan teman-teman sekotanya. Tertawa bersama, membicarakan hal-hal yang hanya kudengar sayup-sayup saja dari seberang sana, sambil menunggu kelas perkuliahan dibuka. Mengenakan kemeja flanel putih bergaris hitam, dengan ransel pendaki dan jam g-shock. Mungkin terdengar seperti tomboy. Tapi teramat seksi bagiku. Tapi aku tak mau buru-buru, lebih baik kuawasi saja ia dari jauh. Seperti menikmati segelas anggur merah atau kopi arabika. Meneguk sedikit-sedikit dengan jeda waktu yang tepat. Begitulah caraku menikmati keseriusan ini. Karena meneguknya sekaligus akan menyingkatkan waktu kenikmatan, tapi ketika diselingi dengan kegiatan atau obrolan santai, itulah kehidupan yang hidup bagiku. Seperti kata beberapa wanita yang memperhatikanku, salah satunga seorang akhwat pernah berkata, "Ternyata kamu orangnya diam-diam menghanyutkan ya." 
Ya sekilas memang benar adanya, diam-diam menghanyutkan. Tapi aku tak pernah sengaja diam-diam agar tak diketahui orang. Karena buat apa untuk hal positif dilakukan diam-diam? Mencintai seseorang itu tak perlu malu-malu, tunjukkan saja apa adanya, suka tidak suka itu hanya penilaian orang, mereka hanya melihat kulitnya, yang tau dalam dan menjalaninya adalah kita. Apa? Norak? Ya makanya sehatkan akalmu agar tidak norak.
Aku diam karena memang kebetulan saja saatnya diam, seperti singa, tak selamanya harus selalu mengaum, ada saatnya mengincar mangsa, tenang.. jangan grasak-grusuk.. menunggu momentum terbaik untuk menerkam. Ketika momen mangsa pada titik paling lengahnya bertemu dengan momen pemangsa pada titik paling siapnya, disitulah saat terbaik menerkam. Dan ketika menerkam singa pun tak diam-diam, biarkan seluruh makhluk tahu, entah kawanan singa lain, rusa, gajah dll mengetahui dengan seksama kalau dia sedang menerkam atau berhasil merobohkan mangsanya. Disitulah saatnya singa mengaum, menggelegar, dan ya.. akhir dari sebuah bab tentang bagaimana saya disebut "diam-diam menghanyutkan." Apakah sudah berhasil menangkal pernyataan tersebut atau justru memperjelasnya? Terserah aku tak peduli. Saya tambahkan lagi Jika diam-diam menghanyutkan itu seperi ular, diam diam membelit mangsanya hingga tercekik, mati lemas lalu memangsanya hidup, hidup. Jelas berbeda bukan?

Aku yang sedang menuju kelas karena bosan ketika jam kosong terjadi, datang lah ia dengan senyum dan tatapan ketertarikan. Berdiri di samping kananku yang hendak masuk, akhirnya tertunda. Dan terjadilah percakapan awal di sana, di depan pintu kelas. 
"Hai, namaku Sharon, kita sejurusan lho, cuman aku kelas B.. kamu asro ya?" Kata pertama yang kudengar dari mulutnya saat mengobrol denganku adalah momen penyempurnaan penilaianku tentangnya. Disitulah aku baru tahu, suaranya merdu, lembut, tapi menyiratkan semangat seperti suara sang putri dari kerajaan-kerajaan di film2. Pokoknya.. aku semakin suka dengannya. Damn nafsuku ingin aku segera meminta nomer hapenya, mengajaknya jalan-jalan, makan-makan, chatingan sampai malam, lalu menikahinya seminggu kemudian. Bodoh memang, makanya aku tak mau mengikuti nafsuku, karena dimana-mana tidak ada yang sukses gemilang ketika seseorang menuruti kehendak nafsunya. Pasti itu. Butuh pengontrolan diri yang bagus, sekali lagi butuh momentum terbaik untuk saat2 enak seperti itu, tentu saja tidak sekarang, entah kapan yang pasti momen yang tepat kelak. 
Maka aku pun menjawab seadanya saat itu, "Oh ya.. oke, salam kenal yaa." Aku menjawab dengan dihiasi sedikit senyum tipis. Selanjutnya dia membalas lagi dengan beberapa kata, aku lupa. Karena tidak penting. Yang jelas itu adalah momen pertamaku dengannya. Aku masih bebal,  masih jauh dari jeratannya yang mematikan. Tunggu saja ketika beberapa tahun kemudian aku yang lelaki ini, pernah berderai air mata cinta karenanya. Mletre. 

Komentar

Postingan Populer